Ini kali pertamanya aku
menulis blog. Terinspirasi dari teman-temanku yang ikut ekstrakulikuler
jurnalistik. Awalnya aku juga pingin banget ikut tapi yah, begitulah... =_=
lagian juga udah telat banget buat ikut :3
Oke, tanpa ba-bi-bu
lagi,,sebagai awalan, ini adalah sebuah karangan bergenre fantasi yang
terinspirasi dari masa-masa bermain 'roleplayer' di sekolah 'maya'-ku yang
sampai sekarang masih menjadi sekolah terbaik sepanjang masa xD
*alay* I love you Ghost
highschool!! <3 ^o^
ENJOY THE FICS ;) !!
******
The Chosen One (Yang Terpilih)
Bangunan itu begitu megah.
Desainnya sangat mewah, gaya Eropa abad ke 15. Di sisi lain, aura hitam yang
menakutkan terasa begitu pekat di seluruh kawasan tersebut.
Valeyncia Highschool dulunya
adalah bekas penjara terbesar di abad ke XV. Beberapa narapidana dikabarkan
tewas secara misterius. Ada yang mengatakan jika mereka disiksa oleh sipir atau
mungkin mereka berhasil kabur dan bersembunyi. Penjara ini ditutup sejak sebuah
kebakaran besar tanpa sebab yang pasti. Hampir setengah dari jumlah narapidana
menghilang saat kejadian dan sampai sekarang masih belum diketahui
keberadaannya. Sedangkan sisanya akhirnya dipenggal dan dikuburkan di tempat
itu.
Andrew, pendiri sekolah ini memutuskan
untuk membeli lahan tak terpakai tersebut dan mendirikan sebuah sekolah
misterius yang aksesnya terbatas dengan dunia luar.
Valeyncia Highschool sekarang
memang sudah lebih mewah dari saat pertama kali dibangun. Sangat mewah malah.
Tapi tetap saja tidak mengurangi kesan misterius yang sudah melekat di sekolah
ini...sampai sekarang.
*****
Seorang gadis bersurai hitam dengan
wajah yang manis berjalan dengan riang melihat bangunan indah di depannya. Sesekali
dia tersenyum dan menyapa orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya.
Gadis itu kini memasuki sebuah koridor
panjang di gedung utama. Koridor itu begitu sunyi, yang bisa didengarnya hanya
suara langkah kakinya dan suara roda koper yang ia tarik. Di sepanjang koridor
itu hanya ada loker-loker yang berjejer di sisi kanan-kiri koridor. Loker-loker
itu terlihat tua dan penuh debu.
Sebuah loker menarik
perhatian gadis itu. Loker itu terlihat lebih bersih dari loker lainnya.
Didorong rasa penasaran, gadis itu mendekati loker dengan nametag 'Andrew' itu.
Di saat dia sudah berada di dekat loker
itu, perlahan dia mendengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin terdengar
jelas. Sesosok bayangan hitam berjalan mendekatinya. Manusia? tidak..seekor
kuda putih dengan tanduk di dahinya mendekati gadis itu dengan tatapan tajam. Kuda
itu mendekati gadis itu kemudian berbalik sambil melirik ke arah sang gadis,
kemudian berjalan pelan di depannya, seakan mengisyaratkan gadis itu untuk
mengikutinya.
Gadis itu mengikutinya pelan sambil
mengamati sekelilingnya. Hening. Hawa di koridor itu sangat mencekam. Sesekali
terdengar suara orang berbisik-bisik dan suara tawa yang terdengar begitu
menakutkan. Gadis itu mencoba mengabaikan suara-suara itu meski sebenarnya dia
sudah terlalu takut untuk berjalan.
Di ujung koridor itu pintu keluar sudah
terlihat. Kuda itu berjalan keluar dari koridor panjang itu, diikuti oleh gadis
yang mengekorinya. Gadis itu memandang sekitarnya, bersyukur karena tempat itu
tak seseram koridor tadi. Tapi dalam hati dia bertanya-tanya, kemana perginya
kuda tadi? padahal di sisi kanan dan kirinya hanya ada koridor panjang lagi.
Meskipun kuda itu berlari, setidaknya minimal pasti akan terdengar suara
langkahnya. Mungkinkah??
CKLEK
Tiba-tiba pintu besar di depannya
terbuka dan menampakkan sosok lelaki berumur dua puluhan dengan tatapan
sedingin es. Tampan. Kata itu yang pertama kali terbesit di benak gadis itu
saat melihat sosok di depannya. Gadis itu segera tersadar dari rasa kagumnya,
kemudian membungkuk hormat pada lelaki itu.
"Saya Nicky Choi. Senang
bertemu dengan anda."
"Bagaimana caranya kau
bisa sampai di depan ruanganku?" ucap lelaki dengan nada datarnya.
Nicky mendongakkan kepalanya
mendengar pertanyaan dari lelaki tersebut. Kemudian Nicky menceritakan
semuanya. Dari koridor yang penuh dengan loker, kuda putih bertanduk, hingga
bagaimana caranya dia bisa sampai di depan ruangan ini.
Lelaki itu menegang mendengar
cerita dari Nicky. Kedatangan Nicky ke ruangannya sudah cukup membuatnya kaget.
Pasalnya ruangan Headmaster sebenarnya adalah ruangan yang hanya bisa dijangkau
oleh yang memiliki kekuatan magic yang cukup tinggi karena tempat itu
dilindungi dengan dinding magic buatan sang pendiri terdahulu. Jadi mustahil
untuk murid baru yang tergolong human bisa memasuki daerah itu.
"Koridor apa yang kau
maksud?" tanya lelaki itu tetap dengan ekspresi datarnya.
"Tentu saja yang--"
Nicky membelalakkan matanya melihat koridor yang baru saja ia lewati kini raib.
Yang ada hanya tembok yang memanjang sejauh mata memandang.
Lelaki itu menatap Nicky
dengan tatapan dingin kemudian mengarahkan jari telunjuknya ke belakang leher
Nicky, membuat Nicky perlahan kehilangan kesadarannya.
*******
Suara-suara orang berbicara membangunkan
Nicky dari pingsannya. Saat bangun, Nicky berada di ruangan yang didominasi
oleh warna putih dan dengan aroma obat-obatan yang khas. Seortang wanita berpakaian perawat mendekatinya dengan senyum
yang mengembang di wajah cantiknya.
"Kau sudah sadar?"
Nicky hanya menjawabnya
dengan anggukan pelan dan wajah yang bingung.
"Kau pasti
bertanya-tanya bagaimana kau bisa di sini, kan? Sebenarnya tadi Master
menemukanmu pingsan di depankoridor gedung utama. Sepertinya kau kelelahan
akibat perjalanan jauhmu." Cerita wanita itu panjang lebar sebelum Nicky
sempat membuka mulutnya.
"Be-benarkah? Seingatku terakhir
kali aku bertemu dengan seorang laki-laki. Saat aku akan menunjukkan koridor
aneh itu...tiba-tiba leherku terasa panas dan...aku bangun di sini" cerita
Nicky pelan yang membuat perawat sedikit syok dan menjatuhkan obat-obatan yang
dibawanya.
"Mungkin kau hanya
bermimpi... Sebentar lagi kelas dimulai, tidak baik jika kau terlambat di hari
pertamamu kan?" Ucap suster itu mengalihkan pembicaraan.
Nicky mengangguk cepat
kemudian melangkahkan kakinya dari tempat itu setelah membungkuk hormat pada
suster itu.
Sepeninggal Nicky, seorang laki-laki
berjas resmi yang sedari tadi berada di sudut ruangan itu menampakkan hawa
keberadaannya yang sedari tadi ia sembunyikan. Raut muka lelaki itu nampak
geram seakan-akan dia akan menghancurkan tempat itu dalam sekejap.
"Ini tidak mungkin, Casey...bahkan
para senior tidak ada yang bisa menahan sihir itu. Bagaimana dia bisa ingat?"
Ujar lelaki itu sambil menggemeretakkan giginya geram.
"Mungkinkah dia--"
"Tidak mungkin!!" Bentak
lelaki itu membuat Casey tidak berani meneruskan kata-katanya. "Tetap
awasi anak itu. Aku akan pergi ke Valenthya untuk menanyakan hal ini."
Lanjutnya sambil mengontrol emosinya.
"Baik, master" ujar Casey
seraya membungkuk hormat pada headmaster yang kini sudah teleport
ke Valenthya.
*****
"Perkenalkan, aku Nicky Choi.
Senang bertemu kalian"
Nicky memperkenalkan diri di
kelas barunya seraya membungkukkan badannya hormat. Matanya menelisik satu
persatu wajah di sana.
"Baiklah,
kau boleh duduk di bangku di sebelah Henry. Nah, sesuai janjiku kemarin, hari
ini kita akan mengadakan kelas outdoor. Kita ke Bloody River
sekarang." Ujar Mr. Stevan datar kemudian melangkah keluar dari kelas
diikuti oleh siswa-siswi yang lain.
.
"Bloody River. Dinamai
seperti itu karena warnanya airnya yang memang berwarna semerah darah. Sungai
ini adalah tempat tinggal ras mermaid murni dan ras monster laut. Tapi
kedua ras itu sekarang berselisih karena suatu hal. Konon perselisihan itu yang
membuat warna sungai ini tidak jernih seperti yang dulu."
Para siswa duduk di dekitar
sungai dengan air berwarna pekat itu sambil mendengarkan penjelasan guru
sejarah yang tampan itu. Sementara itu, Nicky sedang memandangi Henry, teman
sebangkunya yang sekarang sedang bermain air merah itu. Mendadak Henry seperti
kehilangan keseimbangannya dan jatuh kedalam sungai berdarah itu. Para siswa
panik dan mengalihkan perhatiannya pada Henry yang menghilang ditelan sungai
itu. Bahkan tak ada buih di permukaan air itu, seolah tidak terjadi apa-apa.
Para siswa yang gelisah tanpa pikir panjang melompat ke dalam air untuk
menyelamatkan Henry. Tapi nihil, mereka juga lenyap tanpa riak air seolah-olah
sungai itu adalah portal ke dunia lain. Mr Stevan yang melihat kejadian itu
mendekati sungai itu diikuti oleh beberapa staff dan guru yang berseragam
serupa dengannya. Tapi saat Mr Stevan dan guru lainnya menyentuh air mereka
berjengit mundur seperti merasakan getaran listrik pada mereka.
Nicky menggigit bibir
bawahnya ragu. Apakah dia harus terjun ke dalam air juga? Nicky memejamkan
matanya mencoba menenangkan pikirannya kemudian bergegas melepas sepatu dan
kaos kakinya dan melompat ke dalam air itu diikuti oleh suara umpatan salah
satu guru yang geram melihat siswa-siswa hilang. Yang lebih mereka sesali
adalah, mereka tidak bisa melakukan apapun. Headmaster juga sedang ada urusan
di luar sekolah.
Sementara itu, Nicky yang
baru saja masuk ke dalam air merah itu mulai menyelam ke dasar. Tapi sayangnya
dia sama sekali tidak bisa melihat apapun di dalam air itu karena warna airnya
yang terlalu pekat sehingga mengganggu jarak pandangnya. Perlahan kebutuhan
akan oksigen mulai menyerangnya. Nicky segera berenang kembali ke permukaan untuk
mengambil nafas. Tai aneh, sejauh dan selama apapun dia berenang ke atas, di
seperti berdiam di satu tempat. Nicky semakin kehabisan nafas dan akhirnya dia
kehilangan kesadarannya.
.
Nicky membuka matanya pelan
begitu dia kembali memperoleh kesadarannya. Matanya menelisik sekelilingnya.
Semua terlihat berwarna kemerah-merahan. Sepertinya dia berada di dasar.
Nafasnya kembali normal dan jarak pandangya lebih jauh dari semula. Tapi, apa
ini? Dia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena jeratan
tumbuhan-tumbuhan laut yang sepertinya sengaja menahannya. 'Apa ini masih di
dalam air?' pikirnya. Saat Nicky menoleh ke sisi kirinya, belasan teman
sekelasnya tengah berada dalam posisi yang sama dengannya. Bedanya mereka dalam
keadaan tidak sadarkan diri.
Nicky mencoba berteriak untuk
membangunkan teman-temannya. Tapi suaranya sama sekali tak terdengar karena dia
berada di dalam air. Dari jauh, perlahan dia melihat sekawanan mermaid
yang mendekat ke arahnya. Seorang mermaid perempuan yang sangat cantik dengan
mahkota yang terpasang rapi di rambut hitamnya. Dialah Siren, sang ratu
ras Mermaid. Sedangkan mermaid lainnya membawa trisula.
Siren itu mulai mendekati siswa-siswi, kemudian mengucapkan
kata-kata asing yang tidak dimengerti Nicky. Beberapa siswa berkalung dengan
bandul yang berbentuk kerang perlahan membuka matanya dan tumbuhan laut yang
menjerat mereka juga terlepas. Begitu terlepas, para siswa yang tergolong ras half
mermaid itu membungkukkan badannya pada Siren kemudian mereka
memegang kalung kerang mereka sambil mengucapkan suatu mantra. Kaki-kaki mereka
kini menjadi ekor seperti ikan. Siren itu membelalakkan matanya begitu
menyadari bahwa ada seorang siswi yang berhasil sadar padahal mantra yang tadi
ia ucapkan adalah mantra khusus mermaid.
Siren itu mendekati Nicky sebelum tiba-tiba sebuah alunan
suara lembut membuat tubuh Siren itu menjadi sangat merah dan Siren
itu mengerang kesakitan. Ternyata raja dari klan Monster laut datang bersama
kawanannya dan mengalunkan nada-nada kematian yang merupakan kelemahan mermaid.
Nicky yang tidak tahan
melihat pemandangan itu reflek berteriak untuk menghentikan nyanyian raja
monster laut. Ajaib! Suaranya menggaung keras hingga menggetarkan perairan itu.
Siren terlepas dari lagu terkutuk itu. Dan menatap garang pada raja monster
laut.
"Siapa kau? Berani
sekali kau mengganggu laguku?? Apa kau juga anak buah wanita ini??" Ujar
sang raja monster laut meninggikan suaranya.
"Kaliankah dalang permasalahan
ini? Kalian yang menodai air ini??" Tanya Nicky berani.
"Diamlah! Kau tidak tahu
apapun tentang ini!" Geram raja monster laut.
Siren menatap mata Nicky. Tiba-tiba Nicky melihat sekelebat
memori di kepalanya. Seperti sebuah film dokumenter. Berawal dari pemandangan
indah di mana kedua ras rukun dan bahagia. Raja Monster laut jatuh cinta pada Siren,
tapi Siren menolaknya dan menyuruh raja memberinya waktu untuk itu. Raja
yang memiliki temperamen yang buruk mengamuk dan menyebabkan Siren
terluka. Para mermaid langsung memusuhi raja yang membuat siren
terluka. Mereka menyatakan perang pada ras monster laut. Mendadak warna air
perlahan memerah dan membuat mereka tidak bisa melihat apapun kecuali air merah
itu.
Memory itu berhenti. Nicky
menatap Siren yang terdiam di depannya.
"Apa kau membenci
raja?" Tanya Nicky dengan tatapan sendu.
"Aku hanya menyuruhnya
menungguku memberi jawaban. Aku tidak pernah menolaknya" lirih Siren.
"Tapi kau tidak pernah
memberiku jawaban!" Tegas Raja menyela pembicaraan Nicky dan Siren.
"Itu karena kau menyulut
perang itu!" Balas Siren.
"Jika aku meminta
jawaban itu sekarang, bisakah kau menjawabnya?" Tanya Raja dengan nada
menuntut.
Siren terdiam sejenak, kemudian menatap Raja dengan senyum
tulus yang terlukis indah di paras cantiknya.
"Aku...tidak
membencimu.."
Satu jawaban itu membuat
sebuah gelombang udara yang menghempas perairan itu. Dan untuk pertama kalinya
setelah bertahun-tahun, sungai itu menampakkan wujud aslinya. Bloody River
berubah menjadi jernih dan berkilau, membuat para murid dan guru yang semula
khawatir menjadi takjub melihat fenomena aneh ini.
Raja terkesima dengan
keajaiban ini, kemudian menatap Siren yang masih tersenyum ke arahnya. Para
siswa yang berada di dasar mulai terbangun. Tumbuhan laut yang mengikat mereka
juga terlepas. Raja, Siren dan para pengawal mereka segera teleport
ke kerajaan mereka. Tapi sebelum itu, mereka menyempatkan untuk tersenyum pada
Nicky dan menghadiahkan sebuah kalung mutiara berwarna pelangi padanya. Para
siswa yang sadar kaget dengan keadaan mereka di dalam air jernih itu. Nicky
mencoba membimbing mereka ke atas.
Di permukaan, para guru
memandang khawatir dan menolong muridnya keluar dari air. Para guru kemudian
menyuruh semuanya bubar dan kembali ke asrama masing-masing. Nicky terdiam
sejenak memandang Bloody.. Ah, mungkin seharusnya nama sungai ini
diganti. Samar-samar Nicky melihat Siren yang muncul dan tersenyum ke
arahnya kemudian menghilang disertai hembusan angin kencang yang menerbangkan
dedaunan di sekitarnya. Tanpa dia sadari, Headmaster menatap tajam pada Nicky
dan kalung mutiara yang dipakainya. Beribu pertanyaan berputar di kepalanya,
hanya waktu yang bisa menjawab itu semua.
-To be Continued-

Anak GHOST ya??? sama dong hwehwew
ReplyDeleteiya ^^
ReplyDeletestay tune on ths blog yah ;)
oke
ReplyDelete