Sunday, October 5, 2014

The Chosen One


Ini kali pertamanya aku menulis blog. Terinspirasi dari teman-temanku yang ikut ekstrakulikuler jurnalistik. Awalnya aku juga pingin banget ikut tapi yah, begitulah... =_= lagian juga udah telat banget buat ikut :3

Oke, tanpa ba-bi-bu lagi,,sebagai awalan, ini adalah sebuah karangan bergenre fantasi yang terinspirasi dari masa-masa bermain 'roleplayer' di sekolah 'maya'-ku yang sampai sekarang masih menjadi sekolah terbaik sepanjang masa xD
*alay* I love you Ghost highschool!! <3 ^o^
ENJOY THE FICS ;) !!

******

The Chosen One (Yang Terpilih)


Bangunan itu begitu megah. Desainnya sangat mewah, gaya Eropa abad ke 15. Di sisi lain, aura hitam yang menakutkan terasa begitu pekat di seluruh kawasan tersebut.
Valeyncia Highschool dulunya adalah bekas penjara terbesar di abad ke XV. Beberapa narapidana dikabarkan tewas secara misterius. Ada yang mengatakan jika mereka disiksa oleh sipir atau mungkin mereka berhasil kabur dan bersembunyi. Penjara ini ditutup sejak sebuah kebakaran besar tanpa sebab yang pasti. Hampir setengah dari jumlah narapidana menghilang saat kejadian dan sampai sekarang masih belum diketahui keberadaannya. Sedangkan sisanya akhirnya dipenggal dan dikuburkan di tempat itu.

       Andrew, pendiri sekolah ini memutuskan untuk membeli lahan tak terpakai tersebut dan mendirikan sebuah sekolah misterius yang aksesnya terbatas dengan dunia luar.
Valeyncia Highschool sekarang memang sudah lebih mewah dari saat pertama kali dibangun. Sangat mewah malah. Tapi tetap saja tidak mengurangi kesan misterius yang sudah melekat di sekolah ini...sampai sekarang.
*****
       Seorang gadis bersurai hitam dengan wajah yang manis berjalan dengan riang melihat bangunan indah di depannya. Sesekali dia tersenyum dan menyapa orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya.

       Gadis itu kini memasuki sebuah koridor panjang di gedung utama. Koridor itu begitu sunyi, yang bisa didengarnya hanya suara langkah kakinya dan suara roda koper yang ia tarik. Di sepanjang koridor itu hanya ada loker-loker yang berjejer di sisi kanan-kiri koridor. Loker-loker itu terlihat tua dan penuh debu.
Sebuah loker menarik perhatian gadis itu. Loker itu terlihat lebih bersih dari loker lainnya. Didorong rasa penasaran, gadis itu mendekati loker dengan nametag 'Andrew' itu.

       Di saat dia sudah berada di dekat loker itu, perlahan dia mendengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin terdengar jelas. Sesosok bayangan hitam berjalan mendekatinya. Manusia? tidak..seekor kuda putih dengan tanduk di dahinya mendekati gadis itu dengan tatapan tajam. Kuda itu mendekati gadis itu kemudian berbalik sambil melirik ke arah sang gadis, kemudian berjalan pelan di depannya, seakan mengisyaratkan gadis itu untuk mengikutinya.
       Gadis itu mengikutinya pelan sambil mengamati sekelilingnya. Hening. Hawa di koridor itu sangat mencekam. Sesekali terdengar suara orang berbisik-bisik dan suara tawa yang terdengar begitu menakutkan. Gadis itu mencoba mengabaikan suara-suara itu meski sebenarnya dia sudah terlalu takut untuk berjalan.
       Di ujung koridor itu pintu keluar sudah terlihat. Kuda itu berjalan keluar dari koridor panjang itu, diikuti oleh gadis yang mengekorinya. Gadis itu memandang sekitarnya, bersyukur karena tempat itu tak seseram koridor tadi. Tapi dalam hati dia bertanya-tanya, kemana perginya kuda tadi? padahal di sisi kanan dan kirinya hanya ada koridor panjang lagi. Meskipun kuda itu berlari, setidaknya minimal pasti akan terdengar suara langkahnya. Mungkinkah??

CKLEK

       Tiba-tiba pintu besar di depannya terbuka dan menampakkan sosok lelaki berumur dua puluhan dengan tatapan sedingin es. Tampan. Kata itu yang pertama kali terbesit di benak gadis itu saat melihat sosok di depannya. Gadis itu segera tersadar dari rasa kagumnya, kemudian membungkuk hormat pada lelaki itu.

"Saya Nicky Choi. Senang bertemu dengan anda."
"Bagaimana caranya kau bisa sampai di depan ruanganku?" ucap lelaki dengan nada datarnya.

Nicky mendongakkan kepalanya mendengar pertanyaan dari lelaki tersebut. Kemudian Nicky menceritakan semuanya. Dari koridor yang penuh dengan loker, kuda putih bertanduk, hingga bagaimana caranya dia bisa sampai di depan ruangan ini.
Lelaki itu menegang mendengar cerita dari Nicky. Kedatangan Nicky ke ruangannya sudah cukup membuatnya kaget. Pasalnya ruangan Headmaster sebenarnya adalah ruangan yang hanya bisa dijangkau oleh yang memiliki kekuatan magic yang cukup tinggi karena tempat itu dilindungi dengan dinding magic buatan sang pendiri terdahulu. Jadi mustahil untuk murid baru yang tergolong human bisa memasuki daerah itu.

"Koridor apa yang kau maksud?" tanya lelaki itu tetap dengan ekspresi datarnya.
"Tentu saja yang--" Nicky membelalakkan matanya melihat koridor yang baru saja ia lewati kini raib. Yang ada hanya tembok yang memanjang sejauh mata memandang.
Lelaki itu menatap Nicky dengan tatapan dingin kemudian mengarahkan jari telunjuknya ke belakang leher Nicky, membuat Nicky perlahan kehilangan kesadarannya.
*******
       Suara-suara orang berbicara membangunkan Nicky dari pingsannya. Saat bangun, Nicky berada di ruangan yang didominasi oleh warna putih dan dengan aroma obat-obatan yang khas. Seortang wanita  berpakaian perawat mendekatinya dengan senyum yang mengembang di wajah cantiknya.

"Kau sudah sadar?"

Nicky hanya menjawabnya dengan anggukan pelan dan wajah yang bingung.

"Kau pasti bertanya-tanya bagaimana kau bisa di sini, kan? Sebenarnya tadi Master menemukanmu pingsan di depankoridor gedung utama. Sepertinya kau kelelahan akibat perjalanan jauhmu." Cerita wanita itu panjang lebar sebelum Nicky sempat membuka mulutnya.

"Be-benarkah? Seingatku terakhir kali aku bertemu dengan seorang laki-laki. Saat aku akan menunjukkan koridor aneh itu...tiba-tiba leherku terasa panas dan...aku bangun di sini" cerita Nicky pelan yang membuat perawat sedikit syok dan menjatuhkan obat-obatan yang dibawanya.

"Mungkin kau hanya bermimpi... Sebentar lagi kelas dimulai, tidak baik jika kau terlambat di hari pertamamu kan?" Ucap suster itu mengalihkan pembicaraan.

Nicky mengangguk cepat kemudian melangkahkan kakinya dari tempat itu setelah membungkuk hormat pada suster itu.

       Sepeninggal Nicky, seorang laki-laki berjas resmi yang sedari tadi berada di sudut ruangan itu menampakkan hawa keberadaannya yang sedari tadi ia sembunyikan. Raut muka lelaki itu nampak geram seakan-akan dia akan menghancurkan tempat itu dalam sekejap.

       "Ini tidak mungkin, Casey...bahkan para senior tidak ada yang bisa menahan sihir itu. Bagaimana dia bisa ingat?" Ujar lelaki itu sambil menggemeretakkan giginya geram.
       "Mungkinkah dia--"
       "Tidak mungkin!!" Bentak lelaki itu membuat Casey tidak berani meneruskan kata-katanya. "Tetap awasi anak itu. Aku akan pergi ke Valenthya untuk menanyakan hal ini." Lanjutnya sambil mengontrol emosinya.
       "Baik, master" ujar Casey seraya membungkuk hormat pada headmaster yang kini sudah teleport ke Valenthya.
*****
       "Perkenalkan, aku Nicky Choi. Senang bertemu kalian"
Nicky memperkenalkan diri di kelas barunya seraya membungkukkan badannya hormat. Matanya menelisik satu persatu wajah di sana.
       "Baiklah, kau boleh duduk di bangku di sebelah Henry. Nah, sesuai janjiku kemarin, hari ini kita akan mengadakan kelas outdoor. Kita ke Bloody River sekarang." Ujar Mr. Stevan datar kemudian melangkah keluar dari kelas diikuti oleh siswa-siswi yang lain.
.
       "Bloody River. Dinamai seperti itu karena warnanya airnya yang memang berwarna semerah darah. Sungai ini adalah tempat tinggal ras mermaid murni dan ras monster laut. Tapi kedua ras itu sekarang berselisih karena suatu hal. Konon perselisihan itu yang membuat warna sungai ini tidak jernih seperti yang dulu."

Para siswa duduk di dekitar sungai dengan air berwarna pekat itu sambil mendengarkan penjelasan guru sejarah yang tampan itu. Sementara itu, Nicky sedang memandangi Henry, teman sebangkunya yang sekarang sedang bermain air merah itu. Mendadak Henry seperti kehilangan keseimbangannya dan jatuh kedalam sungai berdarah itu. Para siswa panik dan mengalihkan perhatiannya pada Henry yang menghilang ditelan sungai itu. Bahkan tak ada buih di permukaan air itu, seolah tidak terjadi apa-apa. Para siswa yang gelisah tanpa pikir panjang melompat ke dalam air untuk menyelamatkan Henry. Tapi nihil, mereka juga lenyap tanpa riak air seolah-olah sungai itu adalah portal ke dunia lain. Mr Stevan yang melihat kejadian itu mendekati sungai itu diikuti oleh beberapa staff dan guru yang berseragam serupa dengannya. Tapi saat Mr Stevan dan guru lainnya menyentuh air mereka berjengit mundur seperti merasakan getaran listrik pada mereka.
Nicky menggigit bibir bawahnya ragu. Apakah dia harus terjun ke dalam air juga? Nicky memejamkan matanya mencoba menenangkan pikirannya kemudian bergegas melepas sepatu dan kaos kakinya dan melompat ke dalam air itu diikuti oleh suara umpatan salah satu guru yang geram melihat siswa-siswa hilang. Yang lebih mereka sesali adalah, mereka tidak bisa melakukan apapun. Headmaster juga sedang ada urusan di luar sekolah.

Sementara itu, Nicky yang baru saja masuk ke dalam air merah itu mulai menyelam ke dasar. Tapi sayangnya dia sama sekali tidak bisa melihat apapun di dalam air itu karena warna airnya yang terlalu pekat sehingga mengganggu jarak pandangnya. Perlahan kebutuhan akan oksigen mulai menyerangnya. Nicky segera berenang kembali ke permukaan untuk mengambil nafas. Tai aneh, sejauh dan selama apapun dia berenang ke atas, di seperti berdiam di satu tempat. Nicky semakin kehabisan nafas dan akhirnya dia kehilangan kesadarannya.
.
Nicky membuka matanya pelan begitu dia kembali memperoleh kesadarannya. Matanya menelisik sekelilingnya. Semua terlihat berwarna kemerah-merahan. Sepertinya dia berada di dasar. Nafasnya kembali normal dan jarak pandangya lebih jauh dari semula. Tapi, apa ini? Dia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena jeratan tumbuhan-tumbuhan laut yang sepertinya sengaja menahannya. 'Apa ini masih di dalam air?' pikirnya. Saat Nicky menoleh ke sisi kirinya, belasan teman sekelasnya tengah berada dalam posisi yang sama dengannya. Bedanya mereka dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Nicky mencoba berteriak untuk membangunkan teman-temannya. Tapi suaranya sama sekali tak terdengar karena dia berada di dalam air. Dari jauh, perlahan dia melihat sekawanan mermaid yang mendekat ke arahnya. Seorang mermaid perempuan yang sangat cantik dengan mahkota yang terpasang rapi di rambut hitamnya. Dialah Siren, sang ratu ras Mermaid. Sedangkan mermaid lainnya membawa trisula.
Siren itu mulai mendekati siswa-siswi, kemudian mengucapkan kata-kata asing yang tidak dimengerti Nicky. Beberapa siswa berkalung dengan bandul yang berbentuk kerang perlahan membuka matanya dan tumbuhan laut yang menjerat mereka juga terlepas. Begitu terlepas, para siswa yang tergolong ras half mermaid itu membungkukkan badannya pada Siren kemudian mereka memegang kalung kerang mereka sambil mengucapkan suatu mantra. Kaki-kaki mereka kini menjadi ekor seperti ikan. Siren itu membelalakkan matanya begitu menyadari bahwa ada seorang siswi yang berhasil sadar padahal mantra yang tadi ia ucapkan adalah mantra khusus mermaid.
Siren itu mendekati Nicky sebelum tiba-tiba sebuah alunan suara lembut membuat tubuh Siren itu menjadi sangat merah dan Siren itu mengerang kesakitan. Ternyata raja dari klan Monster laut datang bersama kawanannya dan mengalunkan nada-nada kematian  yang merupakan kelemahan mermaid.
Nicky yang tidak tahan melihat pemandangan itu reflek berteriak untuk menghentikan nyanyian raja monster laut. Ajaib! Suaranya menggaung keras hingga menggetarkan perairan itu. Siren terlepas dari lagu terkutuk itu. Dan menatap garang pada raja monster laut.  

"Siapa kau? Berani sekali kau mengganggu laguku?? Apa kau juga anak buah wanita ini??" Ujar sang raja monster laut meninggikan suaranya.
"Kaliankah dalang permasalahan ini? Kalian yang menodai air ini??" Tanya Nicky berani.
"Diamlah! Kau tidak tahu apapun tentang ini!" Geram raja monster laut.

Siren menatap mata Nicky. Tiba-tiba Nicky melihat sekelebat memori di kepalanya. Seperti sebuah film dokumenter. Berawal dari pemandangan indah di mana kedua ras rukun dan bahagia. Raja Monster laut jatuh cinta pada Siren, tapi Siren menolaknya dan menyuruh raja memberinya waktu untuk itu. Raja yang memiliki temperamen yang buruk mengamuk dan menyebabkan Siren terluka. Para mermaid langsung memusuhi raja yang membuat siren terluka. Mereka menyatakan perang pada ras monster laut. Mendadak warna air perlahan memerah dan membuat mereka tidak bisa melihat apapun kecuali air merah itu.
Memory itu berhenti. Nicky menatap Siren yang terdiam di depannya.

"Apa kau membenci raja?" Tanya Nicky dengan tatapan sendu.
"Aku hanya menyuruhnya menungguku memberi jawaban. Aku tidak pernah menolaknya" lirih Siren.
"Tapi kau tidak pernah memberiku jawaban!" Tegas Raja menyela pembicaraan Nicky dan Siren.
"Itu karena kau menyulut perang itu!" Balas Siren.
"Jika aku meminta jawaban itu sekarang, bisakah kau menjawabnya?" Tanya Raja dengan nada menuntut.

Siren terdiam sejenak, kemudian menatap Raja dengan senyum tulus yang terlukis indah di paras cantiknya.
"Aku...tidak membencimu.."
Satu jawaban itu membuat sebuah gelombang udara yang menghempas perairan itu. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, sungai itu menampakkan wujud aslinya. Bloody River berubah menjadi jernih dan berkilau, membuat para murid dan guru yang semula khawatir menjadi takjub melihat fenomena aneh ini.
Raja terkesima dengan keajaiban ini, kemudian menatap Siren yang masih tersenyum ke arahnya. Para siswa yang berada di dasar mulai terbangun. Tumbuhan laut yang mengikat mereka juga terlepas. Raja, Siren dan para pengawal mereka segera teleport ke kerajaan mereka. Tapi sebelum itu, mereka menyempatkan untuk tersenyum pada Nicky dan menghadiahkan sebuah kalung mutiara berwarna pelangi padanya. Para siswa yang sadar kaget dengan keadaan mereka di dalam air jernih itu. Nicky mencoba membimbing mereka ke atas.
Di permukaan, para guru memandang khawatir dan menolong muridnya keluar dari air. Para guru kemudian menyuruh semuanya bubar dan kembali ke asrama masing-masing. Nicky terdiam sejenak memandang Bloody.. Ah, mungkin seharusnya nama sungai ini diganti. Samar-samar Nicky melihat Siren yang muncul dan tersenyum ke arahnya kemudian menghilang disertai hembusan angin kencang yang menerbangkan dedaunan di sekitarnya. Tanpa dia sadari, Headmaster menatap tajam pada Nicky dan kalung mutiara yang dipakainya. Beribu pertanyaan berputar di kepalanya, hanya waktu yang bisa menjawab itu semua.

-To be Continued-

3 comments :